Sapa yang Jadi Anak Emas Ketika Anak Kedua Lahir?

Sapa yang Jadi Anak Emas Ketika Anak Kedua Lahir?

Jadilah orang tua yang sayang anak. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM – Oke, permasalahan sebagai orang usang nyatanya memang tidak akan berehat di satu titik. Setelah lulus menjadi orang tua baru, secara satu orang anak yang diurus dan dibesarkan sepenuh hati & jiwa sehingga begitu hebat dan membanggakan, “permasalahan” kemudian datang teristimewa. Ibu melahirkan anak kedua!

Penulis juga mengalami peristiwa serupa. Betapa gembira menyambut kelahiran anak kedua, tapi pada saat bersaingan muncul kekhawatiran terhadap nasib kakaknya. Bagaimana kalau dia merasa cemburu? Bagaimana kalau dia merasa disingkirkan? Hal-hal semacam itu memengaruhi perilaku saya juga sebagai ibu kala akhirnya si anak kedua ada. Tanpa saya sadari, anak kedua selalu saya nomorduakan. Baju-baju biasa lungsuran kakaknya yang kebetulan sama perempuan. Pulang kerja pun, anak pertamalah yang mendapatkan pelukan perdana.

Anggia Chrisanti, konselor dan terapis DEPTH ( deep psych tapping technique ) di Biro Konsultasi Ilmu jiwa Westaria yang juga banyak mengikhtiarkan kasus anak-anak di kemensos, menerangkan beberapa poin yang lantas membuat saya tersadar, bahwa apa yang saya lakukan kurang tepat.

Si sulung

Anak sulung sejatinya tipikal dengan anak sendiri. Berapapun lama atau sebentar, dia adalah anak tunggal selama belum punya adik. Apalagi dengan harapan-harapan besar, persiapan dan kehebohan menyambutnya, termasuk (secara otomatis) pemanjaan (baca: pemenuhan yang cenderung berlebihan), mau didapatkan dan dirasakan oleh jiwa sulung pada saat menjadi anak tunggal itu. “Maka, hampir benar pula dia “anak emas” pada ‘masanya’. Pada saat itu, semua terasa baik-baik dan sah-sah selalu. Tidak ada yang salah, ” buka Anggia.

Anak keduaku

Hingga datang adik baru (anak kedua). Semua hal menyenangkan dengan diterima dan dirasakan si sulung sebagai anak emas mulai gawat, bahkan sejak adik masih pada dalam kandungan. Oleh karenanya, menonjol naluri superioritas pada anak pertama. Yaitu ketika anak sulung bakal berusaha lebih menguasai dunianya biar tidak diambil alih adiknya. “Sayangnya, tanpa sadar, wali yang khawatir berlebih–mengenai anak sulung yang mau cemburu dengan kehadiran adik–justru malah semakin menegaskan bahwa perhatian lebih diarahkan kepada si sulung. Yang notabene sudah pernah mendapatkan segalanya, sejak sebelum dilahirkan hingga masa adiknya lahir, ” ujar Anggia. “Sikap orang tua inilah dengan tanpa sadar menjadikan kondisi bujang kedua (benar) selalu menjadi dengan kedua atau dinomorduakan, ” sambungnya.

Anak kedua jangan jadi anak emas

Dengan alasan mau membuat nyaman si kakak, mau agar kakak tidak menjadi dengki, maka anak kedua seolah berniat dibuat agar tidak menjadi spesial. “Semuanya harus berbagi dengan kakaknya yang padahal telah mendapatkan semuanya sejak sebelumnya, ” Anggia membaca.

Sang kompetitor

Itu sebabnya, dalam keseluruhan hidupnya, dalam kawasan bawah sadarnya, terbentuklah jiwa atau nunari kompetitor. Anak kedua selalu terdorong untuk berkompetisi, bahkan hal sekecil apapun. Karena untuk mendapatkan apapun, dia selalu harus berbagi dengan kakaknya. Dan semakin gawat ketika kemudian harus mengalah secara adiknya (jika ada anak ke-3 nantinya).

Anak kedua juga hampir tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Anak kedua cenderung selalu dibandingkan (baik secara sadar atau tidak) dengan kakaknya ataupun adiknya. Hal ini, pada ukuran yang lebih luas, akan besar pada kehidupan sosialnya kelak. “Sehingga tidak mengherankan, kalau kemudian terkenal sebutan bagi anak kedua jadi trouble maker . Padahal dia hanya merasa kudu berkompetisi dengan siapapun untuk mendapatkan atau mempertahankan apapun yang menurutnya adalah haknya, ” urai Anggia.

Sayang anak

Jadilah orang tua yang sayang anak. Semua anak. Tanpa membedakan. Berikanlah haknya per. Jika si kakak pernah, bisa, dan sah menjadi ‘anak emas’, mengapa anak kedua tidak dapat? Jika anak pertama pernah mendapatkan kehidupan pribadinya yang hanya miliknya, mengapa anak kedua tidak mampu? Gunakanlah prinsip customer service , misalnya di sebuah bank. “Seorang customer service akan tetap memberi pelayanan prima pada setiap klien walaupun itu adalah klien ke-1000 di hari itu. Dengan senyum yang sama, tingkah laku baik dan keramahan yang pas, kesabaran yang serupa dalam menjawab pertanyaan, seolah itu adalah klien prima. Jangan sampai terjadi sebaliknya, semacam demotivasi, malas-malasan, apalagi tidak mood menghadapi customer ke-1000 itu sebetulnya, ” beri contoh Anggia.

Nah, orang tua pun harusnya seperti itu. Perlakukan seluruh anak, walaupun anak ke-11, dengan kasih sayang, kesabaran, perhatian, bergairah, dan kegembiraan yang sama laksana ketika mendapatkan anak pertama. Karena bagi anak-anak ini (anak ke-2 dan berikutnya), kehidupan mereka segar dimulai pada saat mereka hadir. Mereka punya hak yang persis dari nol, bukan kemudian ada hanya untuk melengkapi kehidupan kakak-kakak atau adik-adiknya. “Setiap anak punya kehidupan sendiri, haknya masing-masing. Kudu diberikan sama, sesuai kebutuhannya, sesuai porsinya. Jangan dibedakan kecuali Kamu ingin anak Anda menjadi ‘berbeda’, ” pungkas Anggia.

Rekomendasi