Jalan Menghindarkan Anak dari Sifat Emosional dan Temperamental

Jalan Menghindarkan Anak dari Sifat Emosional dan Temperamental

Jalan Menghindarkan Anak dari Sifat Emosional dan Temperamental

Banyak faktor dengan menyebabkan anak berkarakter emosional dan temperamental. (Depositphotos)

TABLOIDBINTANG. COM – Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjodo S. Psi mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan anak berkarakter emosional & temperamental.

“Antara asing karena anak tidak terbiasa menamsilkan emosi dengan baik, kecerdasan emosi mereka tidak dikembangkan, atau barangkali mereka belajar cara yang lupa untuk mengekspresikan emosi, ” sah Vera. Menurut Vera, sifat emosional dan temperamental akan semakin tampak ketika anak memasuki usia muda.

“Ini ada hubungannya dengan perkembangan otak, khususnya dalam area prefrontal cortex (otak bagian depan) yang belum sempurna. Periode ini memiliki fungsi eksekutif, jarang lain membantu pengambilan keputusan secara mempertimbangkan konsekuensi, baik buruk jadinya. Bagian ini baru akan berfungsi secara optimal ketika memasuki usia 20-an. Sebelum (bagian otak depan matang) itu, pengambilan keputusan dan tindakan remaja lebih banyak dipengaruhi emosi, ” papar Vera.

Oleh sebab itu sangat penting peranan orang tua untuk meredam emosi anak, jadi tidak berlanjut kepada hal-hal dengan sifatnya agresif. “Remaja makhluk emosional, jadi bantu mereka untuk meredam (emosi) dulu sehingga rasio itu dapat membantu mencari solusi. Akal akan tertutup jika mereka sedang emosional, ” sambung Vera.

Orang Tua vs Dunia

Ketidakstabilan emosi di remaja bisa diminimalkan jika karakter tua membekali anak dengan daya mengelola emosi sejak dini. Caranya, dengan menerapkan pola asuh dengan memberi kesempatan kepada anak buat mengenali, memahami, mengendalikan, dan menyampaikan emosi dengan tepat. “Ada beberapa orang tua yang cenderung ‘mematikan’ emosi anak daripada membantu budak mengenali dan mengatasi emosi mereka. Misalnya saat anak marah dan menangis, mereka hanya mengatakan, ‘Sudah, jangan menangis! ’ Orang tua tak membantu anak memahami emosi mereka—mengapa mereka kesal atau sedih—dan tidak membantu anak mengetahui yang harus dilakukan jika
mereka merasa kesal, marah, atau sedih, ” Vera memberi contoh.

Ketika anak menangis, tanyakan, apa yang membuat mereka menangis? Tawarkan pula solusinya, misalnya dengan mengutarakan, “Kamu sedih karena mainan hancur? Nanti Ibu benarkan. Kalau mainanmu sudah benar, kamu tidak prihatin lagi, kan? ” Anak kudu paham. setiap emosi ada penyebabnya dan semua masalah ada solusinya.

Tontonan televisi, permainan, dan lingkungan luar rumah bisa ikut memberi andil dalam membuat karakter anak yang temperamental, tetapi tidak selalu. “Sesuatu yang dimakan berulang-ulang dalam jangka waktu periode akan memberikan nilai-nilai yang diserap oleh anak dan diterapkan di perilaku mereka, termasuk nilai-nilai kebengisan, ” kata Vera. Ketika bujang sering menyaksikan tontonan yang menyimpan unsur kekerasan, bisa jadi mereka akan terpengaruh, tetapi bisa juga tidak terpengaruh
karena bimbingan yang tepat dari orang primitif.

“Masa paling istimewa (dalam pembentukan karakter) adalah 5 tahun pertama sampai usia remaja. Tergantung pada lingkungan seperti barang apa anak tumbuh dan berkembang. Tersedia juga orang tua yang ada di rumah tapi tidak sepenuhnya hadir untuk anak, sehingga bujang lebih banyak menerima pengaruh daripada luar rumah, ” urai Vera. Yang sering tidak disadari, terbentuknya karakter anak terkadang dipengaruhi orang tua sendiri. “Contoh langsung sebab bagaimana orang tua mengekspresikan emosi dan bagaimana orang tua
menyelesaikan konflik dengan orang lain juga akan dipelajari anak, ” Vera menambahkan. Ketika orang usang sering merespons sesuatu dengan bergelora, anak akan meniru. Reaksi karakter tua terekam dalam otak bani sehingga anak menganggap marah ialah reaksi yang wajar ketika emosi mereka tersulut.

Rekomendasi