Ananda Diana, Si Cinderella Pembangkit Temperamen Mereka yang Putus Asa

Ananda Diana, Si Cinderella Pembangkit Temperamen Mereka yang Putus Asa

Ananda Diana, Si Cinderella Pembangkit Temperamen Mereka yang Putus Asa

TABLOIDBINTANG. COM –┬áSuatu hari Putri Diana mendapat surat dari seorang abu, yang anak laki-lakinya sedang sekarat karena menderita AIDS. Sebelum kematiannya, lelaki muda yang sakit tersebut ingin bertemu dengan The Princess of Wales. Setelah membaca permohonannya, secara pribadi Diana mengusahakan supaya anak laki-laki tersebut bisa ada di sebuah asrama bagi penanggung AIDS di London milik The Lighthouse Trust, yang akan dikunjungi Diana. Sikap Diana yang sempurna perhatian telah menumbuhkan harapannya dengan hampir pupus. Bila surat tersebut harus diperiksa sebagaimana lazimnya, suku anak tersebut mungkin hanya akan menerima balasan yang simpatik dibanding seorang dayang-dayang.

Kejadian itu membuktikan betapa mulia sinting Diana. Perhatiannya pada hal-hal mungil, termasuk menyeleksi sendiri surat-surat daripada pangagumnya, meski punya sekretaris awak, salah satu kelebihannya. Ia benar bak putri Cinderrela, yang cantik wajah dan hatinya. Sifat tersebut tumbuh sejak kecil. Ia sungguh beda dengan dua kakanya, Sarah dan Jane yang lebih suci dan menonjol di bidang gerak. Ketika sekolah di tempat yang sama dengan kakaknya, ia gamak terkucil. Tapi satu hal, menemui sosialnya tumbuh di sini. Buat pertama kalinya Diana mulai mengenal kehidupan sosial, yang sangat berguna setelah menikah dengan Pangeran Charles.

Putri Diana (Instagram)

Antara tahun 1974-1977, saat sekolah dalam West Heath dekat Sevenoaks, Diana mulai mengunjungi beberapa panti lanjut usia dan rumah sakit. Kebetulan di sekolah itu ada program wajib yang mengharuskan setiap siswanya menjalankan itu. Diana yang sangat terseret dengan progam ini, betah duduk berjam-jam menunggui orangtua dan orang yang sedang sakit untuk mengindahkan keluhan mereka. Ia juga tidak canggung membersihkan dan merapikan wadah tidur mereka. Satu lagi kelebihannya, menghibur anak-anak terbelakang mental. Tidak heran, sepulang dari Swiss, tarikh 1979, ia nekad menjadi baby sitter dan mengajar TK pada Pilmico, London. Di sana tempat mengajarkan menyanyi, menulis, juga menari.

Sifat Diana yang suka anak-anak dan memperhatikan orang yang kesusahan, ternyata tidak bertukar. Bahkan setelah pernikahannya dengan Pangeran Charles. Predikat Putri di ajaran namanya justru dimanfaatkan untuk melayani kegiatan-kegiatan sosial. Kepeduliannya terhadap anak buah kecil, gelandangan, korban obat-obatan terlarang, penderita AIDS sampai korban perang, begitu besar. Kalau beberapa orang kecil dan menolak berdekatan dengan pengidap AIDS, Diana dengan enteng bersuara, ”AIDS tidak membahayakan orang yang ingin mengetahuinya. Marilah kita bersambung tangan, karena mereka sangat membutuhkannya. ” Ucapannya bukan isapan jempol belaka. Dia tidak hanya membakar semangat penderita AIDS, tapi serupa bercakap-cakap, bahkan memegang tangan itu. Diana tahu betul cara membangkitkan semangat orang yang putus sangka.

Perceraiannya dengan Tengku Charles, tak mengubah perangainya menjelma pemurung. Ia membuktikan diri sebagai wanita tangguh. Dalam satu ramah, terang-terangan ia mengatakan lebih sentosa menjadi permaisuri di hati rakyat banyak daripada permaisuri kerajaan. Di dalam masa jandanya, kegiatan sosialnya malah makin meningkat. Kesendiriannya diisi secara kegiatan-kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Tak terhitung lagi berapa penuh ia mengunjungi negara-negara di segenap dunia. Dari mengumpulkan dana untuk penderita AIDS, kanker sampai representatif Palang Merah Internasional dan UNICEF. Bulan Juni tahu lalu, misalnya, Diana melelang gaun-gaunnya di Amerika. Uang hasil lelang itu, sebanyak 12 miliar, disumbangkan ke yayasan AIDS dan yayasan kanker. ”Putri Diana pencari dana terhebat dalam dunia, ” kata Sekjen PPB, Kofi Annan. Kegiatan terbaru Si Putri sebelum meninggal dunia, mengkampanyekan kegiatan gerakan kemanusiaan anti ranjau darat, di seluruh dunia.

Bulan Januari 1997, Diana terbang ke Angola, untuk mengkampenyekan gerakan antiranjau. Dengan menggunakan celana jeans dan perhiasan seadanya mengikuti cadar penutup debu, ia suka membiarkan kulitnya terpanggang matahari tempat Afrika.

Di lengah orang-orang yang menderita, kehadiran Diana sangat berarti. Tatapan matanya dengan penuh cinta, elusan tangannya yang halus, senyumnya yang menawan & ucapannya yang lembut, sangat ditunggu. Tidak heran, 15 Agustus 1997 saat berkunjung ke Bosnia Buca Potok, Bosnia – Herzegovina, matanya sembab setelah mendengar kisah tragis gadis muda bernama Mirzeta Gabelic, yang salah satu kakinya diamputasi akibat ranjau darat peninggalan Perang Bosnia (1992-1995). Kunjungan selama 3 hari di negeri itu, mempunyai arti yang sangat besar. Tak kurang dari Norwegian People’s Aid (NPA) dan Land Mine Survivor’s Network mengundangnya untuk memberikan wejangan bagi korban keganasan ranjau. Setelah didatangi Diana, mereka yang tahu putus asa, gairah hidupnya muncul kembali.

Duta kemanusiaan itu telah pergi. Tapi seluruh karya manisnya tetap membekas pada hati.

(Artikel ini pernah dimuat di Tabloid Bintang Indonesia edisi September 1997)